INFILTRASI BIRU
Ada sedikit kekecewaan dalam diri Prasetyo sepulangnya dari lawatan ke luar negeri . Semua itu berawal dari kesediannya memenuhi undangan dari salah satu lembaga sosial kependidikan untuk mengisi materi dalam sebuah konferensi yang akan dihadiri oleh ratusan guru.
Singkat cerita tibalah ia di tempat penginapan yang telah disediakan oleh panitia, setibanya di dalam kamar matanya tertuju pada sebuah amplop cokelat di atas meja berpulas putih. Diambilnya amplop itu , dibuka kemudian dibacanya perlahan. isi amplop tersebut berupa secarik kertas berisi susunan acara konferensi besok, didalamnya juga tertera nama-nama pengisi acara maupun pemberi materi. Namun ada yang sedikit mengganjal, di ujung kertas tersebut terdapat sebuah tulisan tangan yang berisi himbauan agar seluruh peserta , pengisi acara dan pemberi materi mengenakan pakaian bernuansa biru. Prasetyo sedikit bingung karena dia tidak membawa pakaian bernuansa biru seperti yang diharapkan oleh panitia acara. Namun lelah yang mendera membuat prasetyo tak ambil pusing dia lebih memilih beristirahat lalu terlelap dalam tidurnya.
----------
Prasetyo melangkahkan kaki menuju aula tempat konferensi tersebut 30 menit sebelum acara dimulai. Beberapa pasang mata yang berpapasan dengannya tampak mengernyitkan dahi dan seperti dingin menyambutnya. Tak lama berselang acara pun dimulai dan dibuka oleh seorang pria yang dikenal sebagai orang nomer satu di daerah itu. Sembari menantikan acara berikutnya pandangan Prasetyo menyapu seluruh ruangan yang mayoritas adalah guru dan apa yang ia dapati ternyata cukup mengejutkan, semua peserta mengenakan pakaian bernuansa biru seperti yang tercantum dalam surat yang ia baca kemarin sore. Dan celakanya hanya dia seorang diri yang mengenakan pakaian putih di ruangan itu. Nampak ada sedikit kegalauan di raut wajahnya namun ditepisnya dengan segera agar tak membuyarkan konsentrasinya saat memberi materi nanti.
Tiba saatnya bagi Prasetyo untuk memberikan materi, dia berdiri dan berjalan ke tengah panggung. Di sela acara tersebut dia memberikan berbagai motivasi dan candaan kepada para peserta , namun apa lacur, tak ada sambutan hangat maupun tepuk tangan dari peserta, semua tampak dingin sedingin bongkahan- bongkahan es abadi kutub utara. Hingga acara usai tak ada satu pun yang mengapresiasikehadiran prasetyo
----------
Dalam perjalanan pulang menuju bandara Prasetyo diantar oleh seorang pegawai dari kedutaan besar. Di dalam mobil tersebut Prasetyo memberanikan diri untuk menceritakan pengalamannya. Dan ternyata jawaban dari pegawai tersebut cukup menohok, dia mengatakan bahwa di negeri ini sedang dalam masa kampanye dan pejabat publik yang membuka acara tersebut memang berafiliasi dengan partai bernuansa biru dan di negeri ini semua pegawai pemerintah dan guru wajib hukumnya mendukung partai yang diusung oleh sang pemimpin .
Hmmm, akhirnya penasaran prasetyo pun terjawab sudah. Mereka bersikap dingin mungkin karena merasa tidak dihormati dengan warna pakaian yang dikenakannya.
---
Untung saja di negeriku tak ada kejadian seperti ini.
Di negeriku, guru-guru selalu berpegang teguh pada netralitas.
Di negeriku, guru –guru tak pernah berafiliasi dengan partai
Di negeriku, guru-guru tak terlibat dalam hegemoni politik praktis.
Di negeriku, guru –guru tak pernah disusupi kepentingan selain kependidikan.
Di negeriku guru-guru berdiri bebas tanpa harus terbalut sebuah warna.
-------------
Salam Kopi Hitam
Casino: Slots, Video Poker, Craps & More
BalasHapusVisit us! Sign up or download the newest version of our casino 김제 출장안마 app. Enjoy 태백 출장안마 slots, video poker, and 김포 출장샵 video poker at 김해 출장안마 the best online 부천 출장안마 gaming