Teori Perkembangan Peserta Didik

Teori-teori Perkembangan

Menurut Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional tahun 2003 peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Berdasarkan ketentuan tersebut maka yang dimaksud peserta didik adalah semua orang yang mengikuti proses pendidikan, baik orang yang sudah dewasa maupun yang belum dewasa.
  Pada dasarnya peserta didik merupakan pribadi yang unik dan memiliki kemampuan untuk berkembang.  Perkembangan tersebut merujuk kepada perubahan sistematik tentang fungsi-fungsi fisik dan psikis (Yusuf 2013;1). Perkembangan dapat diartikan juga sebagai proses perubahan baik secara kualitatif maupun kuantitatif pada setiap individu dalam periode masa kehidupannya. Adapun ciri ciri perkembangan diantaranya (1) terjadinya perubahan ukuran dalam aspek fisik dan psikis; (2) terjadinya perubahan proporsi fisik dan psikis ; (3) memudar bahkan hilangnya tanda tanda fisik dan psikis lama ; (4) Munculnya tanda –tanda baru pada aspek fisik dan psikis.
 Peserta didik merupakan seorang yang sedang berkembang , memiiki potensi tertentu, dan dengan bantuan pendidik ia mengembangkan potensinya  secara optimal. Untuk mengetahui siapa peserta didik perlu dipahami bahwa ia sebagai manusia yang sedang berkembang menuju kearah kedewasaan ( Sadulloh, 2010: 135).
Tugas utama guru dalam pembelajaran diantaranya adalah membawa peserta didik pada prestasi terbaiknya sesuai dengan potensi yang dimiliki. Jadi hal pertama yang perlu dipahami adalah mengetahui karakteristik peserta didik dan cara mengembangkan potensinya. Informasi mengenai karakteristik peserta didik dalam berbagai aspek menjadi satu acuan dalam menentukan materi sehingga sesuai dengan perkembangan peserta didik. Berdasarkan pemahaman tersebut, guru harus bekerja keras dan kreatif untuk mengeksplorasi berbagai upaya baik dalam bentuk media, bahan ajar, dan metode pembelajaran untuk memfasilitasi peserta didik secara tepat dan kreatif sehingga sesuai dengan perkembangan mereka termasuk gaya belajarnya
Proses pendidikan memerlukan sebuah interaksi aktif  dimana hal tersebut merupakan hubungan antara pendidik dengan peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan, dan berlangsung dalam lingkungan pendidikan. Interaksi  berfungsi untuk mengembangkan seluruh potensi kecakapan dan karakteristik peserta didik diantaranya yaitu karakteristik fisik-motorik, intelektual, sosial, emosional, moral, dan spiritual..
Interaksi tersebut merupakan hubungan dua arah yang saling mempengaruhi. Agar para pendidik dapat berinteraksi dengan baik dengan peserta didik, maka pendidik perlu memiliki pemahaman siapa yang menjadi objek peserta didiknya. Pemahaman yang cukup terhadap potensi, kecakapan dan karakteristik peserta didik akan berkontribusi dalam bentuk perlakuan, tindakan-tindakan yang bijaksana, tepat sesuai dengan kondisi dan situasi peserta didik. Pendidik akan menyiapkan dan menyampaikan pelajaran, memberikan tugas, latihan dan bimbingan disesuaikan dengan kemampuan dan tahap perkembangan peserta didik

A.        Teori Jean Piaget
Tujuan dari teori Piaget adalah untuk menjelaskan secara sistematis proses perkembangan intelektual sejak masa bayi menuju masa kanak-kanak yang berkembang menjadi seorang individu yang dapat bernalar dan berpikir menggunakan hipotesis-hipotesis. Piaget menyimpulkan dari penelitiannya bahwa organisme bukanlah agen yang pasif dalam perkembangan genetik. Perubahan genetik bukan peristiwa yang menuju kelangsungan hidup suatu organisme melainkan adanya adaptasi terhadap lingkungannya dan adanya interaksi antara organisme dan lingkungannya. Dalam responnya organisme mengubah kondisi lngkungan, membangun struktur biologi tertentu yang  ia perlukan untuk tetap bisa mempertahankan hidupnya. Perkembangan kognitif yang dikembangkan oleh Piaget diinspirasi oleh pendidikan yang pernah dienyamnya dalam bidang biologi. Dari hasil penelitiannya di bidang tersebut, Ia meyakini bahwa suatu organisme hidup dan lahir dengan membawa dua kecenderunngan dasar, yaitu kecenderungan untuk beradaptasi dan organisasi.
Untuk memahami proses-proses penataan dan adaptasi terdapat dua konsep dasar yang dikemukakannya, yaitu sebagai berikut:

1.          Skema
Istilah skema atau skemata yang diberikan oleh Piaget adalah pendapat untuk dapat menjelaskan mengapa seseorang memberikan respon terhadap suatu stimulus dan untuk menjelaskan banyak hal yang berhubungan dengan ingatan. Maka skema adalah struktur kognitif yang digunakan oleh manusia untuk mengadaptasi diri terhadap lingkungan dan menata lingkungan ini secara intelektual.

2.         Adaptasi merupakan perpaduan antara asimilasi dan akomodasi:
Asimilasi menurut Piagiet adalah bagian dari suatu proses kognitif, dengan adanya asimilasi seseorang mengintegrasikan bahan-bahan persepsi atau stimulus ke dalam skema yang ada atau tingkah laku yang ada. Asimilasi selalu berlangsung setiap saat. Seseorang tidak hanya memperoses satu stimulus saja, melainkan memproses banyak stimulus. Secara teoritis, asimilasi tidak menghasilkan perubahan skemata, tetapi asimilasi mempengaruhi pertumbuhan skemata. Dengan demikian maka asimilasi adalah bagian dari proses kognitif, dengan proses itu individu  mengadaptasi diri terhadap lingkungan dan menata lingkungannya..


3. Sedangkan Akomodasi dapat dikatakan sebagai hasil penciptaan sebuah skemata baru atau pengubahan skemata lama. Asimilasi dan akomodasi terjadi dan saling mengisi pada setiap individu yang menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Proses ini perlu untuk pertumbuhan dan perkembangann kognitif. Antara asimilasi dan akomodasi harus ada keserasian atau keseimbangan
Piaget membagi perkembangan kognitif ini ke dalam 4 periode yaitu:
1.          Periode Sensori motorik (0-2,0 tahun)
bayi yang dilahirkan secara otomatis membawa sejumlah refleks bawaan dan  juga dorongan untuk mengeksplorasi dunianya. Skema awal ini terbentuk melalui diferensiasi refleks dari pembawaan tersebut. Periode sensorimotorik adalah periode awal dari empat periode yang harus dilalui. Berdasar pendapatnya bahwa tahapan awal ini menandai perkembangan kemampuan dan pemahaman spasial yang penting dalam enam sub-tahapan yang akan dilalui yakni:
a)     Sub-tahapan fase refleks, muncul saat bayi baru lahir sampai usia enam minggu yang berhubungan erat dengan sistem refleks.
b)     Sub-tahapan fase reaksi sirkular primer, dari usia enam minggu sampai empat bulan dan berhubungan terutama dengan munculnya kebiasaan baru.
c)     Sub-tahapan fase reaksi sirkular sekunder, muncul antara usia empat sampai sembilan bulan dan berhubungan terutama dengan koordinasi antara penglihatan dan pemahaman.
d)     Sub-tahapan koordinasi reaksi sirkular sekunder, muncul dari usia sembilan sampai dua belas bulan, saat berkembangnya kemampuan untuk melihat objek sebagai sesuatu  yang permanen meski kelihatannya berbeda jika dilihat dari sudut berbeda.
e)     Sub-tahapan fase reaksi sirkular tersier, muncul pada usia dua belas bulan hingga delapan belas bulan dan berhubungan terutama dengan penemuan cara-cara baru untuk mencapai tujuan.
f)     Sub-tahapan awal representasi simbolik, berhubungan dengan tahapan awal kreativitas

2.         Periode Pra operasional
Tahapan ini merupakan tahapan kedua dari empat tahapan yang dikemukakan Piagiet. Permainan yang digunakan Piaget bisa menunjukkan bahwa setelah akhir usia dua tahun jenis yang secara kualitatif baru dari fungsi psikologis muncul. Pemikiran praoperasi dalam teori Piaget adalah prosedur melakukan tindakan secara mental terhadap sebuah objek. Ciri dari tahapan ini adalah operasi mental yang jarang dan secara logika tidak mudah dipahami. pada tahap ini, anak belajar menggunakan dan merepresentasikan objek dengan gambaran dan kata-kata. Anak kesulitan untuk melihat dari sudut pandang orang lain. Anak dapat mengklasifikasikan objek menggunakan satu ciri, seperti mengumpulkan semua benda berwarna walau bentuknya berbeda-beda atau mengumpulkan semua benda bulat walau warnanya berbeda-beda.
Menurut Piaget, tahapan pra-operasional mengikuti tahapan sensorimotor dan akan muncul antara usia dua tahun sampai enam tahun. pada tahap ini, anak mengembangkan keterampilan berbahasanya. Mereka mulai merepresentasikan benda-benda dengan kata-kata dan gambar. Namun, mereka masih menggunakan penalaran intuitif bukan logis. Di permulaan tahapan ini, mereka cenderung egosentris, yaitu, mereka kesulitan dalam memahami hubungan satu dengan yang lain. Mereka kesulitan memahami bagaimana perasaan dari orang di sekitarnya. akan tetapi seiring proses pendewasaan, kemampuan untuk memahami perspektif orang lain semakin membaik.


3.          Periode operasional konkret
Tahapan ini adalah tahapan ketiga dari empat tahapan Piagiet, berada pada rentang  usia enam sampai dua belas tahun dan mempunyai ciri-ciri berupa penggunaan logika yang memadai. Proses penting pada tahapan ini adalah pengurutan kemampuan untuk mengurutan objek menurut ukuran, bentuk, atau ciri lainnya. Contohnya, anak pada periode ini diberi benda berbeda ukuran, mereka dapat mengurutkannya dari benda yang paling besar ke yang paling kecil. Kemampuan untuk memberi nama dan mengidentifikasi serangkaian benda menurut ciri khasnya, termasuk gagasan bahwa serangkaian benda-benda dapat menyertakan benda lainnya ke dalam rangkaian tersebut. Anak pada tahapan ini tidak lagi memiliki keterbatasan logika berupa  anggapan bahwa semua benda hidup dan berperasaan.
Pemusatan atau Decentering  adalah masa dimana anak mulai mempertimbangkan beberapa aspek dari suatu permasalahan untuk bisa dipecahkannya sendiri. Sebagai contoh anak tidak akan lagi menganggap botol besar tapi pendek lebih sedikit isinya dibanding botol kecil tapi tinggi.
Pembalikan atau Reversibility adalah saat ketika anak mulai memahami bahwa jumlah atau benda-benda dapat diubah, kemudian kembali ke keadaan awal. Untuk itu, anak dapat dengan cepat menentukan bahwa 2+2 sama dengan 4, 4-2 akan sama dengan 2, jumlah sebelumnya.
Penyesuaian atau Konservasi berarti anak memahami bahwa kuantitas, panjang, atau jumlah benda-benda adalah tidak berhubungan dengan pengaturan atau tampilan dari objek atau benda-benda tersebut. Sebagai contoh, bila anak diberi botol air yang seukuran dan isinya sama , mereka akan tahu bila air dituangkan ke botol lain yang ukurannya berbeda, air di botol itu akan tetap sama banyak dengan meski di isi ke wadah yang bebeda.
Penghilangan sifat Egosentrisme adalah kemampuan anak untuk melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain (bahkan saat orang tersebut berpikir dengan cara yang salah). Sebagai contoh, tunjukkan gambar  yang memperlihatkan Ida  menyimpan boneka di dalam kotak, lalu meninggalkan ruangan, kemudian Asep  memindahkan boneka itu ke dalam laci, setelah itu baru Ida kembali ke ruangan. Anak dalam tahap operasi konkrit akan mengatakan bahwa Ida akan tetap menganggap boneka itu ada di dalam kotak walau anak itu tahu bahwa boneka itu sudah dipindahkan ke dalam laci oleh Asep.

4.         Periode operasional  formal
Tahap operasional formal adalah periode terakhir pada teori  perkembangan kognitif Piaget. Tahap ini mulai dialami anak pada usia dua belas  tahun (saat pubertas) dan terus berlanjut sampai dewasa. Karakteristik pada tahap ini adalah diperolehnya kemampuan untuk berpikir secara abstrak, menalar secara logis, dan menarik kesimpulan dari informasi yang tersedia. Pada  tahap ini, seseorang dapat memahami hal-hal seperti cinta, bukti logis, dan nilai. Ia tidak melihat segala sesuatu hanya dalam bentuk hitam dan putih, namun ada “diantara". Jika  dilihat dari faktor biologis, tahapan ini muncul saat pubertas (saat terjadi berbagai perubahan besar lainnya), hal ini menandai masuknya anak ke dunia dewasa secara fisiologis, kognitif, penalaran moral, perkembangan psikoseksual, dan perkembangan sosial. Beberapa orang tidak sepenuhnya mencapai perkembangan sampai tahap ini, sehingga ia tidak mempunyai keterampilan berpikir layaknya orang dewasa dan tetap menggunakan penalaran dari tahapan sebelumnya yakni tahapan operasional konkrit.
Piaget mengemukakan bahwa ada 4 aspek yang besar yang ada hubungnnya dengan perkembangan kognitif:
1)     Pendewasaaan/kematangan, merupakan pengembanagn dari susunan syaraf.
2)     Pengalaman fisis, anak harus mempunyai pengalaman dengan benda-benda dan stimulus-stimulus dalam lingkungan tempat ia beraksi terhadap benda-benda itu.
3)     Interaksi sosial, adalah pertukaran ide antara individu dengan individu.
4)     Keseimbangan, adalah suatu system pengaturan sendiri yang bekerja untuk menyelesaikan peranan pendewasaan, penglaman fisis, dan interksi sosial.

B.        Teori Sigmund Freud
Menurut Sigmund Freud dalam Yupi Supartini ( 2004 ;86 ), perkembangan  psikososial anak dibagi menjadi:
a.          Fase Oral
Disebut  fase  oral karena pada tahap ini anak  mendapatkan sensasi  kenikmatan dan kepuasan dari berbagai pengalaman disekitar mulutnya. Fase ini berlangsung dari masa bayi baru lahir sampai umur 1 tahun. Bila ibu berhasil memuaskan kebutuhan bayi dalam fase ini maka anak tersebut akan merasa aman dan melangkah dengan mantap ke fase berikutnya . Bila fase oral tidak terselesaikan dengan baik maka akan terbawa ke fase berikutnya. Ketidaksiapan tersebut tampak pada perilaku anak yang akan selalu bergantung, dan enggan untuk mandiri. Fiksasi pada fase oral yaitu, makan permen, mengunyah permen karet, mengigit pinsil, makan, mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan atau cerewet.

b.         Fase anal
Fase ini berlangsung pada rentang usia 1 tahun hingga 3 tahun, pada masa ini anak mulai meperlihatkan rasa ke aku-annya. Sikapnya sangat egoistik. Ia pun mulai mengenal tubuhnya sendiri dan mendapatkan kepuasan dari pengalaman auto-erotiknya. Pada tahap ini salah satu tugas anak adalah latihan kebersihan atau disebut “ toilet training”. Anak mengalami rasa puas saat bisa menahan maupun saat mengeluarkan tinjanya. Bila orang tua tidak dapat mebantu anak untuk menyelesaikan tugas latihan kebersihan dengan baik  maka akan terjadi berbagai kesulitan tingkah laku. Orang yang berkarakter anal adalah orang yang secara berkesinambungan mendapatkan kepuasan erotiknya dengan cara memegang dan memiliki benda  dengan menyusunnya dalam keteraturan dan kerapian. karakteristik fase anal yaitu keteraturan, kepelitan dan keras kepala.
c.          Fase Oedipal/falik
Biasanya terjadi pada anak di rentang usia antara  3 tahun sampai 6 tahun. Pada tahap ini anak mulai bisa merasakan dorongan seksualitas yang kemudian ditujukan kepada orang tua dengan jenis kelamin yang berbeda. Perasaan ini menimbulkan dorongan untuk bersaing dengan orang tua yang mempunyai jenis kelamin sama dengannya hal ini ditujukan agar ia dapat merebut perhatian orang tua yang lain. Dengan demikian anak dapat merasakan rasa seksual yang berkembang ini dengan lebih bebas. Namun demikian lama kelamaan anak akan sadar sendiri bahwa ia tidak mungkin mengekspresikan perasaannya dengan seenaknya dan juga tidak mungkin memenangkan persaingan melawan orang tuanya., maka ia belajar untuk menahan diri. Disini tampak bahwa anak mulai belajar beradaptasi. Perasaan seksual yang negatif ini kemudian menjadikan anak menjauhi orang tua yang berjenis kelamin berbeda, dan ia mulai mendekat pada orang tua dengan jenis kelamin sama. Pada fase inilah dimulai proses identifikasi seksual yang ditandai dengan pergaulan anak yang lebih suka bermain dengan teman yang jenis kelamin sama.
d.     Fase laten
Biasanya terjadi pada anak  di usia 7 hingga 12 tahun. Periode ini merupakan periode integrasi yang memiliki ciri anak  harus berhadapan dengan berbagai macam tuntutan sosial seperti hubungan kelompok, pelajaran sekolah, konsep etika dan moralitasserta hubungan dengan dunia dewasa.

e.     Fase genital
Dengan selesainya fase laten, maka sampailah anak pada fase terakhir dalam perkembangan, yaitu fase genital. Dalam fase ini anak dihadapkan dengan masalah yang kompleks, dan ia diharapkan mampu bereaksi sebagai orang dewasa. Kesulitan yang sering timbul pada fase ini seringkali disebabkan oleh karena si anak belum dapat menyelesaikan tahap perkembangan pada fase sebelumnya dengan tuntas.

C.        Teori Erik Erikson
Erikson berpendapat bahwa pandangan-pandangannya sesuai dengan ajaran dasar psikoanalisis yang lebih dulu dikemukakan oleh Freud. Namun, teori Erikson lebih tertuju pada aspek sosial dan kebudayaan.
Delapan tahap/fase perkembangan kepribadian menurut Erikson memiliki ciri utama yaitu perkembangan kepribadian yang berlawanan akan tumbuh bersama dan berjalan melalui krisis diantara dua polaritas tersebut. Adapun tingkatan dalam delapan tahap perkembangan yang dilalui oleh setiap manusia menurut Erikson adalah sebagai berikut:

a.          Infancy (Kepercayaan vs Kecurigaan)
Tahap ini berlangsung pada masa oral, kira-kira terjadi pada umur 0 - 1 ½ tahun. Tugas yang harus dilaksanakan pada tahapan ini adalah menumbuhkembangkan kepercayaan tanpa harus menekan kemampuan untuk hadirnya suatu ketidakpercayaan. Kepercayaan ini akan terbentuk dengan baik apabila dorongan oralis pada bayi terpuaskan, misalnya untuk tidur dengan tenang, menyantap makanan dengan nyaman , serta dapat membuang hajat dengan tenang. Oleh sebab itu, pada tahap ini ibu memiliki peranan yang secara kwalitatif sangat menentukan perkembangan kepribadian anaknya yang masih kecil.

b.     Early Childhood (Otonomi vs Perasaan Malu dan Ragu-ragu
Pada tahap kedua adalah tahap anus-otot (anal-mascular stages), masa ini biasanya disebut masa balita yang berlangsung mulai dari usia 18 bulan sampai 3 atau 4 tahun. Tugas yang harus diselesaikan pada masa ini adalah kemandirian) serta meminimalisir perasaan malu dan ragu pada anak. Apabila dalam menjalin suatu relasi antara anak dan orangtuanya terdapat suatu perilaku yang baik, maka dapat menghasilkan suatu kemandirian. Namun, sebaliknya jika orang tua salah dalam mengasuh anaknya, maka dalam perkembangannya nanti anak akan mengalami sikap malu dan ragu-ragu. Dengan kata lain, ketika orang tua dalam mengasuh anaknya memberikan perhatian lebih pada aspek-aspek tertentu misalnya mengizinkan seorang anak yang menginjak usia balita untuk dapat mengeksplorasikan dan mengubah lingkungannya, anak tersebut akan bisa mengembangkan rasa mandiri atau ketidaktergantungan.
c.         Preshool Age ( Inisiatif vs rasa bersalah)
            Pada tahap ketiga ini terjadi di usia 4 tahun hingga 6 tahun. Di masa ini tugas yang diperlukan adalah mengembangkan kemampuan anak untuk mengambil keputusan dan memiiki tanggung jawab moral ketika keputusannya salah. Hal ini membuat anak memiliki kemampuan untuk mengembangkan pikirannya dengan pertimbangan yang matang.
d.     school age (Kerajinan vs inferioritas)
Tahap keempat adalah tahapan yang terjadi pada usia anak sekolah dasar antara umur 6 tahun hingga 12 tahun. Salah satu tugas yang diperlukan dalam tahap ini ialah dengan mengembangkan kemampuan bekerja keras dan menghindari perasaan  rendah diri. ketika seorang anak berada di tingkatan ini  maka area sosialnya akan meluas dari lingkungan keluarga hingga sampai ke sekolah, misalnya orang tua harus selalu mendorong, guru harus memberi perhatian, teman harus menerima kehadirannya. Anak pada usia ini anak diharapkan untuk dapat merasakan bagaimana rasanya berhasil, apakah itu di sekolah atau dilingkungan ditempat bermain. Melalui tuntutan tersebut anak dapat mengembangkan suatu sikap rajin. Berbeda jika anak tidak dapat meraih sukses karena mereka merasa tidak mampu (inferioritas), hal ini dapat dapat mengembangkan sikap rendah diri. Oleh karena itu, peranan guru dan orangtua sangatlah penting untuk memperhatikan apa yang menjadi kebutuhan anak pada tahap ini.

e. Adolescence( Identitas vs Kekacauan Identitas)
Tahap ini dimulai  pada saat masa puber ( remaja awal) dan berakhir pada usia 18 hingga 20 tahun. Tugas yang harus dilakukan pada tahap ini adalah pencapaian identitas personal dan menghindari peran ganda. Menurut Erikson masa ini merupakan masa yang mempunyai peranan penting, karena melalui tahap ini orang harus mencapai tingkat identitas egosentrisme, dalam pengertiannya identitas pribadi berarti mengetahui siapa dirinya dan bagaimana cara bersosialisasi di tengah masyarakat. Lingkungan dalam tahap ini semakin luas tidak hanya berada dalam area keluarga, sekolah namun dengan masyarakat pula, akan  tetapi  disisi  lain jika  kecenderungan  identitas  ego lebih  kuat  dibandingkan  dengan kekacauan identitas, maka mereka tidak menyisakan sedikit ruang toleransi terhadap masyarakat yang bersama hidup dalam lingkungannya. Erikson menyebut tahapan pertentangan ini dengan sebutan fanatisisme. Orang yang berada dalam sifat fanatisisme ini menganggap bahwa keputusannya lah yang terbaik dan mengesampingkan pendapat orang lain. Sebaliknya, jika kekacauan identitas lebih kuat dibandingkan dengan identitas ego maka Erikson menyebutnya dengan sebutan pengingkaran. Orang yang memiliki sifat ini mengingkari keanggotaannya di dunia orang dewasa atau masyarakat dilingkungannya yang pada akhirnya mendorong mereka untuk mencari identitas di tempat lain yang merupakan bagian dari kelompok yang menyingkir dari tuntutan sosial yang mengikat serta mau menerima dan mengakui mereka sebagai bagian dalam kelompoknya yang memiliki pandangan yang sama dengan dirinya.

F young adulted ( Keintiman vs Isolasi)
Tahap pertama hingga tahap kelima sudah dilalui, maka setiap individu akan memasuki jenjang berikutnya yaitu pada masa dewasa awal pada rentang usia antara 20 tahun hingga 30 tahun. Jenjang ini menurut Erikson adalah masa dimana seseorang ingin mencapai kedekatan dengan orang lain dan berusaha menghindar dari sikap menyendiri. Adapun pemahaman dalam kedekatan dengan orang lain mengandung arti adanya sebuah kerja sama yang terjalin dengan orang lain. Akan tetapi, peristiwa ini akan memiliki pengaruh yang berbeda apabila seseorang dalam tahap ini tidak mempunyai kemampuan untuk menjalin relasi dengan orang lain secara baik sehingga akan tumbuh sifat merasa terisolasi.
Oleh sebab itu, kecenderungan antara keintiman dan isoalasi harus berjalan dengan seimbang guna memperoleh nilai yang positif yaitu cinta. Dalam konteks teorinya, cinta berarti kemampuan untuk mengenyampingkan segala bentuk perbedaan dan keangkuhan lewat perasaan bahwa manusia saling membutuhkan satu dan lainnya. Wilayah cinta yang dimaksudkan di sini tidak hanya mencakup hubungan dengan asmara dengan lawan jenis namun juga hubungan dengan orang tua, tetangga, sahabat maupun masyarakat di lingkungannya.
g. Adulthood     ( Generativitas vs Stagnasi)
Masa dewasa (dewasa tengah) berada pada posisi ke tujuh, dan ditempati oleh orang-orang yang berusia sekitar 30 tahun sampai 60 tahun. Generativitas adalah perluasan pandangan akan cinta ke masa depan. Sifat ini berbentuk kepedulian terhadap generasi yang akan datang. Melalui generativitas akan dapat dicerminkan sikap untuk peduli terhadapa orang lain dan menekan rasa ketidakpedulian. Pemahaman ini sangat jauh berbeda dengan arti kata stagnasi yaitu pemujaan terhadap diri sendiri dan sikap yang dapat digambarkan dalam stagnasi ini adalah tidak perduli terhadap ritualisasi dalam tahap ini meliputi generasional dan otoritisme.
Generasional ialah suatu keadaan dimana orang-orang dewasa memiiki hubungan yang baik dan menyenangkan dengan para penerusnya di masa yang akan datang.  Sedangkan otoritisme yaitu suatu keadaan pemaksaan kehendak oleh orang dewasa yang  merasa memiliki kemampuan lebih baik  berdasarkan pengalaman yang mereka alami serta memaksakan kehendak tersebut kepada generasi penerusnya yang menyebabkan ketidak harmonisan hubungan diantara keduanya.

h. Senescene (Integritas vs Keputusasaan)
Tahap terakhir dalam teori Erikson disebut dengan tahap usia senja. Tahap ini  dilalui oleh mereka yang berada di rentang usia 60 tahun hingga ia tutup usia. Menurut Erikson, orang yang sampai pada tahap ini berarti mereka sudah cukup berhasil melewati tahap-tahap sebelumnya dan yang menjadi tugas terpenting pada tahapan ini adalah rasa integritas dan meminimalisir perasaan putus asa dan kekecewaan.
Tahap ini merupakan tahapan tersulit yang harus dilewati oleh sebagian besar orang karena mereka sudah mulai merasakan adanya keterasingan dari lingkungannya, hal ini akibat stigma khalayak bahwa orang pada usia senja dianggap sudah tidak produktif dan tidak berguna. Kesulitan tersebut akan dapat teratasi jika di dalam diri orang yang berada pada tahap paling tinggi dalam teori Erikson ini terdapat integritas yakni berusaha menerima kenyataan hidup dan oleh karena itu juga berarti menerima akhir dari hidup itu sendiri. Namun, tentu saja sikap ini akan bertolak belakang jika didalam diri mereka tidak terdapat integritas yang mana sikap terhadap datangnya kecemasan akan terlihat.
Kecenderungan terjadinya integritas yang lebih kuat dibandingkan dengan kecemasan dapat menyebabkan orang pada masa ini lebih sibuk hidup dalam pengandaian, sementara  perasaan mereka tidak mau menerima kenyataan di masa tua. Sebaliknya, jika kecenderungan akan rasa cemas lebih besar dibandingkan dengan integritas maka akan timbul suatu sikap penyesalan, yang diartikan Erikson sebagai sikap sumpah serapah dan menyesali kehidupan sendiri. Maka daripada itu, keseimbangan antara integritas dan kecemasan harus dicapai dalam masa usia senja guna memperoleh kebijaksanaan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Part 3 : Konspirasi Global Organisasi Dodol

Fabel : Kera Bertanduk Rusa