Satire : Naik Ke atas turun Ke Bawah
Selepas kuliah, Satire berkunjung ke rumah franky.
Dia bermaksud menanyakan lowongan pekerjaan. sebagai sesama pendatang dari luar pulau jawa hubungan mereka memang cukup erat.
“permisii.. frank..fraankyy..” Satire memanggil dari luar.
“eh bung,
kirain siapa, ayo masuk” ajak franky
“di teras saja, beta (saya) rasa gerah”
‘baiklah, silahkan duduk bung”
“frank, se (kamu) tau ada lowongan pekerjaan kah?”
tanya satire
“bukannya bung sudah bekerja?” tanya franky
kembali
“beta memang sudah bekerja tapi gaji yang beta
dapat tak cukup buat beta makan. Siapa tau bung ada info lowongan kerja, tolong
beta kasih berita ”
“ada sih bung, tapi nanti beta harus tanya dulu ke
babah Aliong ya bung”
“baiklah bung”
Wajah Satire mendadak sendu. Dia tertunduk ,sudut
matanya hendak meneteskan airmata. Isyaratkan ada kesedihan mendalam yang sedang ia rasakan.
“kenapa bung bersedih?”tanya franky
“beta sedih mendengar kabar mai(ibu) dirawat ”
“emang mai kenapa bung?”
“tensinya naik, kemarin mai pingsan di rumah”
satire terisak mengenang mai
“sudahkah bung telepon orang rumah?”
“belum, beta tak pung (punya) pulsa” jawab satire
“hmmm” franky menggumam.
Franky yang merasa iba ingin sekali menolong
Satire. Tapi jangankan pulsa, hapenya aja sekarang lagi di gadein ke bang Ucok
buat bayarin tunggakan kontrakannya. Namun ,tiba-tiba sesosok malaikat penolong
berwujud bocah bertubuh gemuk lewat dihadapan mereka. Bak seekor kucing yang
melihat seekor tikus dia pun tak menyia-nyiakannya kesempatan emas itu. Dia
tahu pulsa bocah itu pasti banyak, soalnya sepengetahuannya itu bocah pake
langganan pasca bayar.
“halooo Entooong...”. ucap Franky dengan seringai
diwajahnya.
“ampun bang, entong ampun bang tadi entong cuma
bercanda...” Entong menangis ketakutan menyangka Franky akan membalas
perbuatannya tempo hari.
“oke lu gue ampunin, tapi gue minta tolong sama
lu..”
“hik...hikk... hik...minta tolong apa bang?”
sambil terisak
“gue pinjem hape lu”
“buat apa baaangg...?? hik..hikk... sumpah bang,
entong kaga nyimpen gambar gituan” entong memelas.
“udah sini ah, gue pinjem bentar”
“nah ini apaann..??!!” lanjut franky menunjukkan
layar handphone entong.
***
“awaaaassss.. awaaasss...permisiii...” seorang
mahasiswa tampak sedang terburu-buru menaiki tangga. Sebuah papan berukuran 60
cm x 100 cm berupa media peraga diangkat di atas kepalanya. Beberapa mahasiswa
yang hendak turun sedikit terluka terkena sudut papan yang kasar itu.
“woii, ati-ati dong!” teriak seorang mahasiswa
yang terserempet papan yang dibawanya.
“sorry-sorry lagi buru-buru” ucap si pembawa
papan sambil berlalu.
Begitulah pemandangan sehari-hari di kampus swasta
terbesar di kota ini. Hilir mudik mahasiswa di tangga itu adalah hal yang lumrah. Kejadian
saling berdesakan pun sering terlihat ketika jam istirahat atau jam pergantian
mata kuliah berbunyi. Satire pemuda asal Maluku yang sedari tadi memperhatikan
hanya bisa mengelus dada setiap kali melihat pemandangan ini.
“Hei, bung kenapa anda bengong saja?” tanya franky
mengagetkan Satire.
“ah, beta tertegun melihat pemandangan dorang
(mereka) ini frank”
“pemandangan apa bung?”
“se (anda) tengok lah kesana.” ucap satire sambil
mengarahkan telunjuknya ke arah dua bangunan tangga.
“oh itu, biasa lah bung.”
“tak bisa , ini tak boleh dibiasakan bung. Katong
(kita) ini mahasiswa, katong ini agen perubahan”
“baiklah bung, nanti katong bicarakan lagi. Beta
mau masuk kelas dulu” ujar Franky berlalu menaiki tangga.
“ heii frank..yang sana,..!” Satire memberikan
tanda bahwa ada sesuatu yang salah saat franky melangkah menaiki tangga.
“sorry bung, hehehee....” jawab franky menyadari
kesalahannya sambil memberikan tanda minta maaf.
***
Di dalam kelas Satire merasa risau, kemarin lusa ia
mendengar kabar bahwa mai (ibu)nya dirawat di rumah sakit. Ingin rasanya Satire
pulang dan merawat mai disana. Namun apa daya jangankan untuk ongkos pulang,
untuk makan saja dia harus berhemat. Maklumlah, sudah setahun ini ia hanya
bekerja sebagai satpam perumahan yang gajinya pun cuma ratusan ribu
rupiah. Berbeda jauh saat ia menjadi
pegawai di perusahaan yang gajinya bisa mencapai empat juta rupiah. Ditengah
lamunannya itu ia dikagetkan oleh suara dosen yang memanggilnya.
“hei bung, heii... kamu, satire..!” dosen itu memanggil.
“oh iya bapak , ada apa bapak panggil nama beta?”
jawab satire.
“coba kemari..!”
Satire pun berdiri kemudian berjalan ke arah yang
ditunjuk oleh dosen.
“coba anda jelaskan apa itu pemahaman membaca.!”
‘baik pak, secara sederhana beta mengartikannya
sebagai kemampuan mengolah teks maupun
gambar dan memahami maksudnya pak”.
“oke, ada berapa tingkatan dalam pemahaman
membaca?” dosen itu kembali bertanya.
“empat pak, yang terendah adalah literal,kemudian
inferensial,kritis, dan kreatif pak”
“menurut anda, sebagai mahasiswa kita seharusnya
berada di tingkatan yang mana?”
“idealnya sih minimal di tingkatan tiga pak,
kritis”
“tapii...” satire ragu.
“tapi apa?”
“sepertinya kita orang disini mayoritas tingkat
pertama pun belum sampai pak”.
Jawaban dari Satire ditertawakan seisi kelas.
Mereka tidak percaya dengan ucapannya.
“woii, kita
ini mahasiswa..Maa..Haaa..Siiss.. waa” ejek Iwan.
“jangan ngaco bung..!” timpal beni.
“anda kali yang belum sampai tingkat pertama..”
sindir bayu
“hahahahahahaha....”. para mahasiswa yang lain
tertawa
Dosen mencoba menenangkan kegaduhan itu..
“apa alasannya, bisa anda jelaskan..?”
“izin bapak, beta ingin tunjukkan bapak sesuatu”
ia pun membuka handphonenya, ditunjukkannya foto-foto yang berhasil ia abadikan
untuk memperkuat argumennya. Setelah melihat foto-foto itu sang dosen pun
mempersilahkan ia untuk menjelaskannya kepada teman-teman yang lain.
“semuanya tolong dengarkan baik-baik penjelasan
satire.”
Satire meminjam laptop sang dosen. Dipindahkannya
foto-foto tadi kemudian ditampilkan melalui sebuah proyektor.
“kita orang disini masih sering naik turun di
tangga yang salah, padahal disitu terpampang jelas petunjuk berupa tulisan dan
gambar. Mana tangga yang buat naik dan mana tangga yang buat turun”
“ini menunjukkan
bahwa pemahaman kita orang masih kalah sama anak SD pak”satire menambahkan.
Jleeeebbbbbb.... suasana mendadak hening.
(bersambung)




Komentar
Posting Komentar