Politisi "Baper"
Kemampuan berpikir kritis dan kepekaan psikososial
dalam menyikapi berbagai persoalan bangsa merupakan suatu hal yang memang harus
dimiliki oleh setiap politisi yang didaulat memimpin rakyatnya. Sebagai bagian
dari mesin demokrasi penggerak kehidupan bernegara keberadaannya memang mutlak
diperlukan. Namun yang terjadi belakangan ini, trend berpikir kritis dan
kepekaan yang dimiliki telah tergradasi. Pola berpikir kritis saat ini lebih bertendensi
terhadap cara menjatuhkan lawan politik daripada sumbangsih saran yang
membangun demi kesejahteraan bersama, Kepekaan psikososial lebih mengarah
kepada sensitifitas yang ofensif daripada menjadikannya sarana menyerap
aspirasi dan mendengar suara hati rakyat.
Sering kita temui di media massa dan elektronik berita-berita bernada
provokatif dan tak elok dari para politisi kita. Berbagai persoalan yang
sebenarnya bisa diselesaikan secara musyawarah dan kekeluargaan dikemas
sedemikian rupa hingga tersaji sebuah drama konflik debat kusir yang berkepanjangan
bak cerita kolosal. Jati diri sebagai bangsa yang berketuhanan dan
berkemanusiaan terdegradasi oleh reaksi emosional yang sempit.
Sikap politisi seperti ini mengingatkan kita
pada salah satu tahapan perkembangan yang dilalui setiap manusia. Masa
peralihan dari fase anak menuju fase dewasa yang biasa kita kenal dengan masa
remaja. Masa ini dapat kita amati melalui
perkembangan kognitif, psikomotorik, dan afektif yang terjadi. Fase perkembangan kognitif pada
masa ini menurut Piagiet dikenal sebagai masa operasional formal yang
ditandai dengan mulai berkembangnya kemampuan berpikir secara rasional dan
logis. Perkembangan Psikomotorik meliputi perkembangan dan pertumbuhan fisik
yang dapat diamati secara kasat mata. Adapun perkembangan afektif pada tahapan
ini adalah masa adolesence (Erik Erikson) yakni masa pencarian identitas
maupun kekacauan identitas. Tingkat sensitivitas sebagai reaksi emosional
terkadang menjadi tak terkendali dan cenderung mengarah kepada fanatisme yang menganggap
hanya dirinya yang benar dan yang lain adalah salah. Fanatisme ini dicirikan dengan ego dan
sensitifitas yang tinggi. Dr. Elaine
Aron (1997) memberikan istilah The Highly Sensitive
person atau orang-orang yang cenderung
menanggapi persoalan dengan melibatkan emosi berlebih akibat dari kepekaan yang
terlalu tinggi. Masyarakat umum mengenalnya dengan istilah baper alias bawa perasaan yakni sebuah
kondisi kejiwaan yang memandang segala sesuatu berdasar emosi yang cenderung
tak terkendali.
Sensitivitas emosi dan
kepekaan sosial selain sebagai sebuah kelebihan sebenarnya juga menandakan
adanya ketidakmatangan emosi jika diikuti dengan perilaku yang cenderung
melihat sisi negatif orang lain sebagai jalan untuk mencapai tujuannya ditambah
dengan perilaku yang menghalalkan segala cara sebagai alat pembenaran atas
kesalahan atau kekurangan yang dimilikinya .
Seyogyanya setiap politisi
bercermin terhadap butir-butir Pancasila sebagai kontrol dan pengendali mutu dalam
berperilaku agar terhindar dari
perbuatan menghujat, mencaci dan menghasut lawan politiknya yang tak lain
adalah saudara sebangsa dan setanah airnya sendiri. sudah sepatutnya para
politisi mempraktekkan politik yang santun dan bermartabat dengan mengedepankan
inovasi dan prestasi demi mencapai masyarakat yang adil makmur dan sentosa
sesuai dengan tujuan yang dicita-citakan para pendiri bangsa ini.
Rakyat di negeri ini
hanya berharap untuk dapat dipimpin para politisi yang mampu berpikir, bersikap
dan bertutur dewasa dalam menghadapi segala persoalan, bukan politisi yang hanya
mengedepankan fanatisme sempit seperti para remaja di awal tahapan
perkembangannya.
Komentar
Posting Komentar