Konspirasi Global Organisasi Dodol
Franky Sakukurata, pemuda berusia dua
puluh tahun blasteran Makasar dan
tokyo berperawakan tinggi kurus bermata
sipit itu berusaha menguatkan kaki-kakinya untuk menaiki tangga. Dikumpulkannya
semua energi yang ada sisa bekerja seharian di sebuah pabrik di pinggiran kota
ini. Diujung tangga itu beberapa
mahasiswa tampak sedang mendiskusikan sesuatu. Secarik kertas tergenggam di jari-jemari
mereka. Seorang pemuda yang mengenakan almamater kampus seperti sedang
menginstruksikan sesuatu kepada rekan-rekannya.
Ingin rasanya Franky bergabung dengan
mereka, mengutarakan ide maupun gagasan yang berlimpah ruah di otaknya. Namun
apa daya, waktu membatasinya. Sebagai seorang pekerja tentu dia harus bisa
membagi waktunya dengan baik. Jangankan untuk ikut berorganisasi, untuk
mengikuti jadwal perkuliahan saja ia sering keteteran.
Selepas mengikuti perkuliahan Franky
bermaksud untuk segera pulang. Namun beberapa pengurus organisasi kemahasiswaan
tiba-tiba masuk dan meminta waktu untuk menyampaikan sebuah informasi
“mohon maaf mengganggu waktunya sebentar” ucap
pemuda tambun berkacamata.
“kami dari himpunan mahasiswa bermaksud untuk
menyampaikan informasi bahwa bulan depan akan diadakan seminar nasional dan
semua mahasiswa wajib mengikutinya sebagai bagian dari prasyarat Ujian akhir
semester mata kuliah Pendidikan Organisasi”. Sambungnya.
“biayanya sekitar 200 ribu rupiah” timpal
seseorang yang berdiri disampingnya.
Franky melihat ke arah teman-temannya,
dari mimik wajah mereka tampak ada guratan kekecewaan. Entah karena biaya yang
dirasa terlalu berat atau karena merasa dizholimi oleh dosen pengampu mata
kuliah tersebut melalui kalimat yang “katanya” wajib sebagai prasyarat UAS.
Franky menangkap keresahan itu. Ia berinisiatif
bertanya kepada mereka yang sedang berdiri di depan kelas. Setelah meminta izin
untuk bertanya ia pun dipersilahkan mengutarakan opininya.
“ ada dua poin yang ingin saya sampaikan. Pertama,
saya setuju dengan setiap kegiatan yang sekiranya menunjang mahasiswa untuk
memperluas wawasannya. Namun saya kira
biayanya terlalu berat buat kami apa tidak ada alternatif lain?”. Ucap Franky
“ kedua, kalimat wajib sebagai prasyarat UAS untuk
mata kuliah ini dasarnya dari mana karena dari awal perkuliahan kami tidak
mendapat informasi bahwa mata kuliah ini mewajibkan kami untuk mengikuti
kegiatan seperti ini. terima kasih.”. sambungnya.
Mendengar pernyataan itu seorang pengurus kemudian
mencoba menjawabnya.
“ pertama, tempat kita nanti di hotel yang fasilitasnya setara bintang 4 jadi wajar ya kalo agak
mahal. Sedangkan yang kedua ini merupakan kesepakatan kami dengan dosen yang
bersangkutan. Nanti teman-teman bisa bertanya kepada beliau” Ucapnya.
Tak ada penjelasan lebih lanjut dari para pengurus
organisasi itu. Mereka berlalu pergi masuk ke kelas lain sembari meninggalkan
kekecewaan di wajah para mahasiswa termasuk Franky.
“ ah itumah kayaknya nyari untung deh, masa segitu
mahalnya”. Ucap sari yang sedang memoles pipinya dengan bedak anak cap Johnson kids
“ iya nih, masa pengurus nggak peka sih. Kita ini mahasiswa lho bukannya
pengusaha”.celetuk tono sambil tangannya memelintir upil hasil kerja kerasnya
barusan.
“lagian setau saya ini hajatan buat angkatan
dibawah kita, ngapain juga kita dibawa-bawa”. Ujar sandi menggaruk-garuk rambutnya yang memang belum
keramas seminggu lebih.
“miskin kuota kali” timpal seorang mahkluk yang
hanya terdengar suara tapi abstrak rupanya.
"atau bisa jadi ini konspirasi global". suara makhluk astral kembali menggema membuat bulu kuduk seisi kelas merinding.
"atau bisa jadi ini konspirasi global". suara makhluk astral kembali menggema membuat bulu kuduk seisi kelas merinding.
Franky yang mendengar kegaduhan itu mencoba
menenangkan mereka.
“kita tunggu saja penjelasan dari dosen yang
bersangkutan. Jika penjelasannya sesuai dengan prosedur ya kita terima. Jika
tidak, maka kalimat wajib itu bisa kita abaikan”.
Franky pun beranjak pulang, dalam
benaknya jangankan untuk biaya pendaftaran yang besarannya dirasa cukup buat ia
makan empat sampai lima hari, untuk
membayar uang kuliah saja ia harus puasa senin kamis menghemat anggaran.
Maklumlah, pabrik kerupuk tempat Franky bekerja memberinya gaji yang nominalnya
hanya separuh dari UMR kota ini.
Saat melangkahkan kakinya dia sempat
mendengar seorang dosen dari kelas yang dilaluinya berkata “organisasi itu
pengabdian. hidupkanlah organisasi tapi ingat jangan pernah cari hidup dari
organisasi!”. Ucapnya tegas.
(bersambung)

Mantap komandan. Lanjutkan.
BalasHapusmahkluk astral..hihihi
HapusMantul.. Lanjutkan untuk selanjut ny...
BalasHapusseperti bola bekel, mantul..tul..tull..
HapusGood Story!!!
BalasHapussaya butuh kritikan bukan pujian..wkwkwkwkwk
HapusDi tunggu episode selanjutnya ckcjcjc😀
BalasHapuskayak antri sembako aja kamu mah ah..
HapusSy sedikit merasa aneh dengan bahasa 'membuat bulu kuduk seisi kelas merinding'.
BalasHapusJadi yang ngomong terakhir itu jelas tidak ada orangnya (hantu) atau hanya kerena yang bicara tidak ketahuan orangnya kalo yang dimaksud yang kedua maka menurut sy kurang pas apabila menghasilkan akibat 'bulu kuduk seisi ruangan merinding'
terima kasih masukannya
Hapusmantul pak.
BalasHapuswaduuhh
HapusEh hazmi cicing maneh
HapusButul butul
BalasHapus